Jakarta — Pelaksanaan arus mudik dan balik Lebaran 2026 mendapat respons positif dari sejumlah elemen masyarakat. Komunitas ojek online (ojol), Sentra Komunikasi (Senkom) Mitra Polri, hingga organisasi kemasyarakatan menilai pengaturan lalu lintas pada musim mudik tahun ini berjalan lebih tertata dan terorganisir dibandingkan periode sebelumnya.
Pandangan tersebut mengemuka dalam forum silaturahmi yang digelar Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri bersama berbagai komunitas masyarakat di Gedung Olahraga Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (7/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari evaluasi pasca pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 sekaligus forum komunikasi antara kepolisian dan elemen masyarakat.
Acara itu dihadiri langsung Kakorlantas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho bersama perwakilan Banser, komunitas pengemudi ojek online, media massa, dan Senkom Mitra Polri. Dalam suasana yang berlangsung hangat, berbagai pihak menyampaikan pandangan terkait pelaksanaan mudik Lebaran tahun ini, khususnya mengenai kelancaran arus kendaraan dan pola koordinasi di lapangan.
Ketua Umum Senkom Mitra Polri, Katno Hadi, menyebut pola koordinasi lintas sektor selama Operasi Ketupat 2026 berjalan lebih efektif. Menurutnya, komunikasi antara kepolisian dan elemen masyarakat terlihat lebih terbuka sehingga berbagai persoalan di lapangan dapat diantisipasi lebih cepat.
Ia menilai pengaturan arus kendaraan pada masa mudik dan balik Lebaran tahun ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi lalu lintas dinilai lebih teratur, terutama di sejumlah jalur utama dan kawasan rest area yang menjadi titik konsentrasi kendaraan pemudik.
Katno mengaku turut memantau langsung pergerakan kendaraan selama musim mudik. Berdasarkan pengamatannya, ritme perjalanan pemudik terlihat lebih terkendali sehingga potensi kepadatan ekstrem di beberapa titik dapat diminimalkan.
“Ritme pergerakan kendaraan tahun ini terlihat lebih teratur. Koordinasi yang dilakukan juga terasa lebih baik dibandingkan sebelumnya,” ujarnya dalam forum tersebut.
Ia menambahkan, keberhasilan pengaturan arus mudik tidak hanya ditentukan oleh kesiapan aparat kepolisian, tetapi juga kerja sama dari berbagai unsur masyarakat. Karena itu, ia berharap pola komunikasi dan kolaborasi yang sudah terbangun dapat terus dipertahankan pada momentum libur besar berikutnya.
Selain Senkom, apresiasi juga datang dari komunitas pengemudi ojek online. Perwakilan Komunitas Gojek Serikandi Merah Putih, Fani, menilai hubungan antara pengemudi ojol dan kepolisian saat ini semakin dekat dan terbuka.
Menurutnya, forum silaturahmi yang digelar Korlantas Polri memberikan ruang dialog yang lebih luas bagi para pengemudi untuk menyampaikan aspirasi, pengalaman di lapangan, hingga persoalan keselamatan berkendara yang dihadapi sehari-hari.
Fani menyebut pendekatan yang dilakukan Korlantas membuat komunitas ojol merasa lebih dilibatkan dalam upaya menjaga keselamatan lalu lintas. Hal itu dinilai penting mengingat pengemudi ojek online merupakan salah satu kelompok yang memiliki mobilitas tinggi di jalan raya.
“Kami merasa hubungan dengan kepolisian sekarang semakin dekat dan harmonis. Komunikasi yang terjalin juga lebih baik,” katanya.
Ia berharap komunikasi tersebut dapat terus diperkuat, khususnya dalam hal edukasi keselamatan berkendara dan pengelolaan lalu lintas di kawasan perkotaan seperti Jakarta.
Dalam beberapa tahun terakhir, Korlantas Polri memang terus mendorong pendekatan kolaboratif dalam pengelolaan lalu lintas nasional. Tidak hanya mengandalkan penegakan hukum, kepolisian juga memperkuat pola komunikasi dengan komunitas masyarakat, pengemudi transportasi online, relawan, hingga organisasi sosial.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari transformasi pelayanan publik yang kini diusung Korlantas Polri. Kakorlantas Irjen Agus Suryonugroho sebelumnya beberapa kali menegaskan bahwa keberhasilan pengamanan lalu lintas tidak dapat dicapai tanpa dukungan masyarakat.
Melalui forum-forum silaturahmi dan program komunikasi publik, Korlantas berupaya membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Pendekatan humanis dinilai menjadi salah satu faktor yang membantu meningkatkan partisipasi publik dalam menjaga ketertiban berlalu lintas.
Selain itu, koordinasi lintas sektor selama Operasi Ketupat 2026 juga disebut semakin solid. Kepolisian bekerja sama dengan kementerian terkait, pengelola jalan tol, dinas perhubungan, tenaga kesehatan, hingga komunitas masyarakat untuk memastikan arus mudik berjalan aman dan lancar.
Berbagai rekayasa lalu lintas seperti sistem one way, contraflow, pengaturan rest area, hingga pemantauan berbasis teknologi diterapkan selama periode mudik dan arus balik. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi kepadatan kendaraan serta meminimalkan risiko kecelakaan lalu lintas.
Korlantas juga memanfaatkan teknologi pemantauan lalu lintas secara real time untuk memetakan kondisi jalan dan mengambil keputusan cepat saat terjadi kepadatan. Informasi tersebut kemudian disampaikan kepada masyarakat melalui media massa dan kanal digital agar pengguna jalan dapat menyesuaikan perjalanan mereka.
Forum evaluasi bersama komunitas ini menjadi salah satu bentuk keterbukaan Korlantas dalam menerima masukan dari masyarakat. Pendapat dan pengalaman langsung dari pengguna jalan dinilai penting untuk memperbaiki pola pengamanan di masa mendatang.
Dengan meningkatnya mobilitas masyarakat setiap tahun, tantangan pengelolaan arus mudik diperkirakan akan semakin kompleks. Karena itu, sinergi antara aparat, komunitas, dan masyarakat luas dinilai menjadi faktor utama dalam menciptakan perjalanan yang aman dan tertib.
Melalui kerja sama yang semakin kuat, Korlantas berharap budaya keselamatan berlalu lintas dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Tidak hanya pada saat momentum mudik Lebaran, tetapi juga dalam aktivitas berkendara sehari-hari.




