JAKARTA — Perjalanan panjang selama dua hari yang ditempuh komunitas ojek online asal Jambi menuju Jakarta berujung pada sebuah pertemuan hangat bersama Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho di Gedung NTMC Korlantas Polri, Senin. Audiensi tersebut menjadi simbol semakin eratnya hubungan antara kepolisian dan komunitas pengemudi transportasi online di Indonesia.
Dalam suasana penuh kekeluargaan, Kakorlantas menerima langsung kedatangan perwakilan driver ojol Jambi yang datang membawa aspirasi sekaligus apresiasi terhadap program “Polantas Menyapa” yang selama ini dijalankan Korlantas Polri di berbagai daerah.
Irjen Agus menegaskan bahwa transformasi pelayanan Polri saat ini diarahkan untuk membangun institusi yang lebih dekat dengan masyarakat. Menurutnya, kepolisian tidak lagi hanya hadir sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai mitra masyarakat yang mengedepankan komunikasi dan pendekatan humanis.
Ia menjelaskan bahwa paradigma pelayanan lalu lintas kini mulai bergeser. Penegakan hukum tetap dilakukan, namun pendekatan yang dikedepankan lebih menitikberatkan pada edukasi keselamatan dan pembangunan kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas.
“Yang terpenting bukan sekadar melakukan penindakan, tetapi bagaimana masyarakat merasa dirangkul dan tumbuh kesadaran untuk tertib demi keselamatan bersama,” ujar Agus dalam pertemuan tersebut.
Menurutnya, keselamatan lalu lintas tidak bisa dibangun hanya melalui aturan dan sanksi. Dibutuhkan hubungan yang baik antara aparat dan masyarakat agar pesan keselamatan dapat diterima dengan lebih efektif.
Karena itu, Korlantas Polri terus memperkuat Program “Polantas Menyapa” sebagai salah satu strategi pelayanan humanis. Program tersebut menjadi sarana komunikasi langsung antara polisi lalu lintas dengan komunitas masyarakat, termasuk pengemudi ojek online yang setiap hari beraktivitas di jalan raya.
Irjen Agus mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan kunjungan ke sejumlah daerah seperti Medan, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, hingga Jambi untuk mendengarkan langsung aspirasi masyarakat dan komunitas pengemudi.
Ia menilai pendekatan seperti itu penting dilakukan agar kepolisian memahami persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di lapangan. Dengan komunikasi yang terbuka, kebijakan pelayanan lalu lintas diharapkan menjadi lebih tepat sasaran dan mampu membangun kepercayaan publik.
Dalam kesempatan itu, Kakorlantas juga menyampaikan apresiasi terhadap semangat komunitas ojol Jambi yang rela menempuh perjalanan darat selama dua hari demi bertemu langsung dengan jajaran Korlantas Polri.
Menurut Agus, perjuangan tersebut menunjukkan adanya solidaritas dan kekompakan yang kuat di kalangan pengemudi ojek online. Ia menilai komunitas ojol Jambi berhasil membangun organisasi yang solid dan mampu menjaga semangat kebersamaan di tengah tantangan pekerjaan di jalan raya.
“Tidak mudah menyatukan banyak orang dalam satu tujuan yang sama. Apa yang dilakukan teman-teman ojol Jambi menjadi contoh positif tentang pentingnya kebersamaan,” katanya.
Sementara itu, penasihat Tim Khusus Anti Begal (Tekab) Ojol Jambi, Dianton, mengatakan kedatangan mereka ke Jakarta merupakan bentuk apresiasi terhadap Program “Polantas Menyapa” yang dinilai memberikan dampak positif bagi pengemudi ojol di daerah.
Menurutnya, program tersebut membuat para driver merasa lebih diperhatikan dan memiliki ruang untuk berdiskusi langsung dengan aparat kepolisian. Hubungan yang terbangun juga dinilai menciptakan kedekatan emosional yang lebih baik antara pengemudi dan polisi lalu lintas.
Dianton menyebut para pengemudi ojek online selama ini menghadapi berbagai tantangan saat bekerja di jalan, mulai dari risiko kecelakaan hingga persoalan keamanan. Karena itu, pendekatan humanis yang dilakukan kepolisian memberikan rasa aman sekaligus motivasi baru bagi para driver.
“Dengan komunikasi yang baik, kami merasa lebih dihargai dan didengar. Itu memberikan semangat baru bagi teman-teman ojol yang setiap hari bekerja di jalan,” ujarnya.
Dalam audiensi tersebut, komunitas ojol Jambi juga mengusulkan pembentukan organisasi nasional bernama “Ojol Nusantara”. Organisasi itu diharapkan menjadi wadah bersama bagi seluruh pengemudi ojek online di Indonesia tanpa membedakan latar belakang aplikasi maupun komunitas.
Mereka berharap keberadaan organisasi nasional dapat memperkuat solidaritas sesama driver serta menjadi sarana komunikasi antar komunitas di berbagai daerah. Selain itu, wadah tersebut juga diharapkan mampu membantu pengemudi dalam membangun budaya keselamatan dan ketertiban berlalu lintas.
Usulan tersebut mendapat respons positif dalam suasana diskusi yang berlangsung santai dan terbuka. Para pengemudi berharap hubungan baik antara komunitas ojol dan kepolisian dapat terus berkembang melalui kegiatan edukasi maupun program sosial lainnya.
Audiensi yang berlangsung di Gedung NTMC Korlantas Polri itu juga memperlihatkan perubahan pendekatan pelayanan kepolisian yang kini lebih mengutamakan dialog dan kebersamaan dengan masyarakat.
Bagi komunitas ojol Jambi, perjalanan panjang menuju Jakarta tidak hanya menjadi simbol perjuangan, tetapi juga bukti bahwa komunikasi yang baik antara masyarakat dan aparat dapat membangun rasa saling percaya.
Mereka mengaku lelah selama perjalanan terbayar setelah mendapatkan sambutan hangat dan kesempatan berdiskusi langsung dengan Kakorlantas Polri. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas dalam membangun keselamatan lalu lintas yang lebih humanis dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Korlantas Polri sendiri menegaskan akan terus membuka ruang komunikasi dengan berbagai komunitas masyarakat sebagai bagian dari transformasi pelayanan publik yang lebih modern, humanis, dan berorientasi pada keselamatan bersama.




