SatuBersama.com –Â Acara Ideafest x Liputan6 yang berlangsung Minggu kemarin menghadirkan ketiga kandidat gubernur DKI Jakarta, yakni Kun Wardana, Pramono Anung, dan Ridwan Kamil. Masing-masing kandidat Gubernur mengutarakan visi mereka terkait tantangan dan peluang yang dihadapi Jakarta, dengan fokus pada isu-isu utama seperti ekonomi, kesejahteraan sosial, dan lingkungan.
Kun Wardana: Fokus pada Kebijakan Lama dan Solusi Kreatif
Kun Wardana menekankan pentingnya mempertahankan kebijakan pemerintah lama yang dinilai efektif, namun juga menyoroti perlunya menghilangkan masalah-masalah lama, seperti ketimpangan sosial dan kebodohan. Ia menjelaskan bahwa tingginya biaya hidup di Jakarta disebabkan oleh pola hidup konsumtif yang tidak seimbang dengan pemasukan, sehingga ia menawarkan digitalisasi dan program internet gratis sebagai solusi untuk menciptakan lapangan kerja baru.
Kun juga menyoroti pentingnya memiliki database pekerja untuk memetakan keterampilan yang dimiliki para lulusan baru dengan pasar kerja yang sesuai. “Internet gratis akan menjadi kunci untuk membuka peluang bagi lulusan baru dalam menemukan pekerjaan,” tegasnya. Selain itu, untuk menghadapi masalah mental di masyarakat, Kun mengusulkan pendirian pusat komunitas di tingkat RW yang menyediakan layanan konseling dan ruang untuk menyalurkan kreativitas.
Terkait isu Jakarta tenggelam, Kun menyarankan penerapan peringatan dini dan mitigasi bencana sebagai langkah proaktif. Ia membayangkan Jakarta sebagai kota budaya yang dapat memanfaatkan potensi lokal untuk menciptakan “Jakarta Wave,” sebuah gelombang inovasi budaya yang mencerminkan peradaban dan gotong royong.
Baca juga: Deklarasi Kampanye Damai, Kapolda Jateng Ajak Semua Pihak Jaga Kamtibmas dalam Pilkada 2024!
Pramono Anung: Hilangkan Pungli, Tingkatkan Etos Kerja
Pramono Anung menyoroti pentingnya menghilangkan praktik pungli dan mengurangi ketimpangan antara si kaya dan si miskin, sambil mempertahankan etos kerja yang kuat di masyarakat. Ia berpendapat bahwa Jakarta sebagai pusat ekonomi nasional harus dikelola dengan kebijakan yang memperhatikan kesejahteraan warga, salah satunya melalui transportasi gratis di busway, MRT, dan LRT. “Orang tidak mampu harus memiliki akses melalui Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU),” jelasnya.
Pramono juga mengusulkan agar job fair rutin diadakan setiap tiga bulan di tiap kecamatan, serta pengembangan balai pelatihan kerja untuk mempersiapkan para pencari kerja. Ia menekankan perlunya birokrasi yang adil dan transparan serta penggunaan teknologi seperti JAKI untuk memfasilitasi pencocokan pekerjaan.
Dalam menghadapi masalah sosial mental di kalangan Gen Z yang banyak menghabiskan waktu di depan layar, Pramono menawarkan konseling 24 jam dan kebijakan fleksibel seperti Work From Anywhere (WFA) yang didukung dengan fasilitas daycare di kantor. Mengenai isu Jakarta tenggelam, ia meyakini bahwa Giant Sea Wall adalah solusi yang tepat untuk menahan air laut.
Ridwan Kamil: Jakarta sebagai Kota Literasi dan Ekonomi Kreatif
Ridwan Kamil menekankan pentingnya mempertahankan nilai-nilai ketuhanan, humanisme, persatuan, dan musyawarah dalam pemerintahan. Ia melihat overpopulation sebagai akar permasalahan biaya hidup di Jakarta, yang membuat warga berebut pekerjaan, transportasi, dan fasilitas lainnya. Menurut Ridwan, solusi terbaik adalah menciptakan kota dengan prinsip “tinggal, kerja, rekreasi di tempat yang sama,” untuk mengurangi beban transportasi yang saat ini menyedot 30% pengeluaran warga Jakarta.
Ia juga menawarkan program Jakarta Digital Academy dan coding camp untuk membekali lulusan SMK dengan keterampilan di bidang ekonomi jasa, kreatif, dan digital. “Pengangguran terbesar di Jakarta adalah lulusan SMK, jadi kita harus fokus pada mereka, bukan hanya freshgraduate perguruan tinggi,” ungkap Ridwan.
Dalam menangani masalah mental di kota, Ridwan mengusulkan layanan mobil curhat dan aplikasi curhat yang memungkinkan warga mendapatkan dukungan psikologis kapan saja. Sementara untuk masalah Jakarta tenggelam, Ridwan menggarisbawahi perlunya pembangunan Giant Sea Wall serta pengayaan infrastruktur perpipaan untuk mengurangi penggunaan air tanah.
Ridwan membayangkan Jakarta sebagai kota literasi UNESCO dan ekonomi kreatif, dengan inisiatif seperti Microlibrary untuk literasi anak kampung dan program Car Free Night di kampung-kampung yang mengedepankan kesenian sebagai sumber ekonomi kreatif. Ia juga menekankan pentingnya melestarikan budaya Betawi melalui program GANG BETAWI yang akan memperkuat identitas lokal di tengah modernisasi.
Ketiga kandidat Gubernur ini menawarkan visi yang beragam namun saling melengkapi untuk masa depan Jakarta, dengan fokus pada solusi kreatif untuk mengatasi masalah ekonomi, sosial, dan lingkungan. Siapapun yang terpilih, masa depan Jakarta akan bergantung pada bagaimana kebijakan ini diterapkan secara nyata.



